Info Perekonomian

EKONOMI

Mata pencaharian warga desa Soket laok mayoritas adalah petani jagung, gadung, singkong, jambu mente, dan kacang-kacangan. Hasil pertanian tersebut rata-rata dijual mentah dipasar. Mayoritas warga desa soket laok memakai lahan mereka sediri untuk bertani. Para petani secara umum memiliki rentang usia 40 tahun ke atas. Sedangkan untuk pemuda yang ada di desa ini kebanyakan bekerja di luar kota dan membantu pekerjaan orang tua untuk bertani. Rata-rata penghasilan penduduk di desa Soket laok sendiri sekitar >1000000. Selain sebagai petani, sebagian warga Desa Soket Laok memiliki usaha lain untuk membantu ekonomi mereka, diantaranya adalah usaha mebel dan toko kelontong.

a.    Mebel
Di sektor jasa perekonomian, sebagian warga Desa Soket Laok  di topang oleh sektor jasa pembuatan mabel berupa pembuatan cendela, pintu, dan lemari.  Para pengerajin mebel membuat barang jika terdapat pesanan dari konumen. Kayu yang digunakan dalam pembuatan mabel adalah kayu jati, mahoni, dan nangka, tetapi kebanyakan yang digunakan adalah kayu jati. Kemudian untuk kayu yang digunakan berasal dari konsumen sendiri sehingga pengrajin hanya menawarkan jasa. Alat – alat yang digunakan oleh pengrajin dalam pembuatan mabel masih bersifat sederhana atau tradisional dan sekalipun ada peralatan Modern itu sudah tua (sering rusak), hal ini terjadi karena para pengrajin memiliki hambatan dalam segi modal, kalaupun terdapat modal itupun bersifat minim.


b.    Toko Kelontong
Dalam meningkatkan perekonomian, beberapa ibu rumah tangga di Desa Soket Laok mempunyai usaha toko kelontong. Toko kelontong tersebut hampir ada di setiap rumah warga di desa soket laok. Dalam wilayah atu RT saja rata-rata terdapat 8 toko kelontong dan beberapa warung makan. Modal untuk membangun usaha toko kelontong tersebut sebagian besar berasal dari mereka sendiri, dimana pada awal pendirian toko tersebut terkesan sederhana dan kecil tetapi lambat laun toko tersebut terus berkembang menjadi besar. Mewabahnya toko kelontong yang ada di desa Soket Laok ini di karenakan akses dari desa ke pasar atau keramaian cukup jauh.


c.    BUMDES (Badan Usaha Milik Desa)

Dalam upaya memajukan kemandirian desa, pemerintah pusat menyediakan anggaran dana yang dikelola oleh pemerintah desa, hal ini tercantum dalam undang-undang nomor 6 tahun2014 tentang Dana Desa. Dana desa yang telah di anggaran oleh pemerintah pusat dapat dimanfaatkan oleh Desa dalam membangun sebuah usaha yang dapat memajukan perekonomian. Dalam hal ini pemerintah Desa Soket Laok memanfaatkan dana desa dengan membangun BUMDES ( Badan Usaha Milik Desa) yang bergerak dalam bidang  pembuatan peralatan rumah tangga dari bahan aluminium seperti lemari piring, meja dan etalase.


Awal mula teretuknya BUMDES yakni  karena banyak pemuda Soket Laok yang merantau di luar kota khususnya di Surabaya untuk bekerja dibidang pembuatan lemari etalase. Kemudian kepala desa berfikir untuk membuat BUMDES mengenai pembuatan lemari etalase agar pemuda dapat berkarya di daerahnya sendiri. Untuk mendirikan BUMDES tersebut bermula dari pengajuan  ke pemerintah dari dana desa. Sebagai   modal awal pendirian BUMDES dibutuhkan dana sekitar   ±90 jt-an. 

Untuk perekrutan karyawan BUMDES didasarkan oleh musyawarah warga Soket Laok dengan jumah karyawan ±5 yang mayoritas perkeja didominasi oleh para pemuda Soket Laok sendiri yang sebelumnya menggangur dan berkerja di luar Madura. Sehingga dengan adanya BUMDES Muda Berkarya  ini dapat membantu menurunkan tingkat pengganguran di desa Soket Laok. Bentuk  pemasarannya sendiri yakni sesuai pesanan dari konsumen, untuk  distribusi penjualnnya di sebar di berbagai tempat seperti Surabaya, Lamongan, Sumenep, Sampang, dan pesanan dari tetangga. Untuk bahan pembatan dproduksi BUMDES didapat dari surabaya. Nilai pemasukkan BUMDES sendiri berkisar 500 ribu per-bulan.